Ghani Kunto

Tales of Suspense: featuring …

Perempuan suka yang besar

Melanjuti posting kemarin tentang menangkap pangsa pasar perempuan, seringkali perusahaan bingung antara apa yang diinginkan perempuan dengan apa yang “dipikir” oleh perusahaan tersebut perempuan inginkan.

Masalahnya adalah perbedaan antara realita dan persepsi.

Persepsi:

Didasarkan pemikiran rasional. Didukung oleh riset. Contoh: perempuan tidak suka gadget Android yang baru karena layar terlalu besar sehingga tidak bisa masuk ke tas mereka ==> lihat posting ini

Realita:

Didasarkan keinginan yang tidak rasional. Didukung oleh observasi lapangan, pembeli selaku penjual, dan tentu saja sales figures. Contoh: banyak perempuan yang suka Android yang besar. Semakin besar semakin asik.  Gak muat di tas?  Beli tas baru lah!  ==> lihat posting yang sama, tapi fokus di komentar para wanita

Kalau ditanya, kenapa kamu pilih HP yang baru dibeli? Jawabannya kemungkinan besar semuanya masuk akal: touch screen, tipis, ringan, baterai tahan lama, BBM. Ini post-purchase rationalization.  Sebab sebenarnya? Tidak ingin terkucilkan dan ingin merasa spesial.

Riset biasanya malah memberikan konfirmasi positif terhadap bias yang sudah ada sebelumnya.  Kalau ingin menghilangkan bias tersebut, cara paling efektif ya menarik lebih banyak pembeli untuk masuk ke dalam perusahaan anda.  Ingin lebih banyak perempuan beli produk anda?  Perbanyak jumlah perempuan yang bekerja sebagai pengambil keputusan di perusahaan anda.  Ingin lebih banyak anak muda beli produk anda? Perbanyak jumlah anak muda yang sebagai pengambil keputusan di perusahaan anda.

Kalau ini belum bisa dilakukan secara keseluruhan, setidaknya lakukanlah disebagian dari perusahaan anda.  Apple sangat tertutup, tapi Apple Store adalah tempat retail yang sangat terbuka.  Mereka bukan saja menggunakan tempat itu untuk berjualan tapi juga untuk lebih mengerti pelanggan mereka.  Dan ujung-ujungnya malah menjadi retail space yang paling tinggi penghasilan $ per meternya di seluruh Amerika.  Lebih detilnya klik di sini.

Advertisements

Menangkap pangsa pasar wanita

Setiap beberapa kwartal, eksekutif perusahaan yang sedang kewalahan menghadapi persaingan akan mendapatkan mandat dari atasannya untuk tidak mengabaikan pangsa pasar yang selama ini belum tergali optimal potensinya. Biasanya mereka akan mengejar youth market atau female market.

Goal setting yang jangka pendek tentu akan menghasilkan strategi yang berkiblat ke hasil jangka pendek pula. Akhirnya yang dilihat hanyalah jalan pintas (advertising campaign, price campaign, dan perubahan kemasan produk) padahal setiap kali mengambil jalan pintas, jalan tersebut semakin tidak efektif. Bahkan mengambil jalan pintas sebenarnya merusak kemungkinan perusahaan tersebut untuk membangun masa depan di market sasaran.

Biasanya kita membahas marketing ke anak muda. Coba kali ini kita lihat marketing ke perempuan. Tantangan dan kesalahan perusahaan sangat mirip.

Coba kita lihat industri otomotif dan industri teknologi. Kalau dilihat dari marketing mereka, seakan-akan perempuan hanya punya dua pilihan, menjadi ibu rumah tangga atau menjadi foxy hot girl. Lihat saja tugas perempuan di auto show atau pameran gadget terbaru.

Kemudian perusahaan-perusahaan yang sama mengatakan, “Wah, kita tidak menganggap perempuan sebagai objek kok! Nih kita bahkan membuat produk khusus untuk wanita. Jelas untuk wanita kan? Warnanya pink lho!”

Emang Power Rangers? Warna pink berarti perempuan? (Actually, Power Rangers malah mendingan, tergantung versinya, Yellow Ranger juga perempuan)

Bahkan kami di mobileYouth menamakan ini sebagai Pink Phone Syndrome. Kalau perusahaan mengeluarkan HP warna pink/plum/dsb untuk menangkap pangsa pasar wanita, ini tanda-tanda untuk mulai menjual saham mereka (lihat saja Nokia Pink Lumia, HTC Bliss). Saham akan turun dan turun terus. Satu-satunya pengecualian adalah Motorola Razr jaman dahulu kala, jaman sebelum smartphone.

***

Mudahnya seperti ini. Sama seperti untuk menangkap pangsa pasar anak muda. Want to pull them in? Stop pushing them away.

Jalur sepeda? Ada-ada saja

Entah sudah sejak kapan jalur khusus sepeda sudah menjadi wacana di Jakarta.  Hasilnya?  Beberapa bagian kecil dari kota sudah memilikinya, tapi dari pemilihan tempat dan ruang lingkupnya, terlihat bahwa sepeda masih dianggap sebagai alat rekreasi, bukan alat transportasi.

Bila kita mengambil langkah kebelakang dan melihat gambaran besarnya, yang menjadi masalah adalah pola pikir us vs them yang sedemikian melekatnya di benak para pembuat keputusan:  “Kalau kasih jalur untuk sepeda, nanti pengendara mobil kekurangan ruang” dsb. Ujung-ujungnya kompromi yang tidak memuaskan siapapun.  Padahal masalahnya bukan ada jalur sepeda atau tidak.  Masalahnya adalah ketidakjelasan apa visi besar Jakarta.  Apakah ini tempat tinggal atau tempat untuk sekedar lewat?

Kalau untuk sekedar lewat, yang dibutuhkan adalah lebih banyak jalan layang dan peraturan yang mendorong Jakarta menjadi kompleks perkantoran dan perbelanjaan raksasa.  Kalau untuk tempat tinggal, kita banyaknya infrastruktur untuk sarana transportasi menjadi alat ukur semu yang kalah prioritas dengan alat ukur yang paling penting: kualitas hidup.

Bila kita ingin Jakarta yang lebih baik, kinerja pemerintah harus diukur dari peningkatan kualitas hidup yang menyeluruh.  Demikian juga dengan rencana-rencana kedepannya.

Alangkah indahnya suatu hari nanti DKI bisa menciptakan iklan jujur seperti Minnesota di bawah ini:

Kalau Tuhan Maha Tahu, untuk apa kita diuji lagi?

Di bulan Ramadhan yang baru saja berlalu, saya mendapatkan jawaban dari salah satu hal yang selalu mengganjal di benak saya:

Kalau Tuhan Maha Tahu, kenapa manusia diberi ujian? Bukankah Dia sudah tahu hasilnya akan seperti apa?

Dan sekarang saya mengerti bahwa ujian hidup itu sama dengan doa dan ibadah yang lainnya: ada untuk kita, bukan untuk Tuhan. Kita berdoa atau tidak, Tuhan akan tetap ada. Kita berdoa dan memuji Tuhan untuk diri manfaatnya untuk diri kita sendiri, bukan untuk Tuhan.

Demikian juga dengan ujian dan cobaan hidup. Tuhan sudah tahu karakter kita, apakah kita orang yang beriman, apakah kita orang yang tetap menjaga prinsip, apakah kita manusia yang bersyukur atau kita manusia pengeluh. Tuhan sudah tahu kita baik atau busuk.

Ujian ada agar KITA tahu, agar kita YAKIN, akan nilai diri kita sendiri.

Dan dengan berlalunya Ramadhan kita bisa mengukur sendiri nilai dan makna kehadiran kita di dunia.

Bagaimana dengan anda? Puaskah anda dengan nilai hasil ujian tahunan anda kali ini?

Arti puasa dan lebaran

Dengar-dengar asal kata “puasa” datang dari budaya Hindu, dari kata “upawasa” yang artinya “menutup”. Karena itulah puasa diakhiri dengan “berbuka”.

Kata “lebaran” lebih unik lagi asal usulnya. Berikut tulisan yang sempat dimuat di Kompasiana mengenai kata yang satu ini:

Sebagian orang mengatakan kalau kata lebaran berasal dari bahasa Jawa ngoko, yakni kata lebar/wes bar/wes bubar yang artinya selesai−melaksanakan ibadah puasa. Kalau dipikir-pikir memang masuk akal juga, tetapi masalahnya orang Sumatera Utara juga mengaku kalau kata lebaran berasal dari sana. Selain itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang selama ini menjadi rujukan tidak ada penjelasan apakah kata lebaran merupakan kata dasar atau kata yang terbentuk setelah mengalami penambahan imbuhan (-an).

Orang Jawa sendiri kenyataannya jarang menggunakan istilah lebaran saat Idul Fitri. Mereka lebih sering menggunakan istilah sugeng riyadin sebagai ungkapan selamat hari raya Idul Fitri. Kata lebaran justru lebih banyak digunakan oleh orang Betawi dengan pemaknaan yang berbeda. Menurut mereka, kata lebaran berasal dari kata lebar yang dapat diartikan luas yang merupakan gambaran keluasan atau kelegaan hati setelah melaksanakan ibadah puasa, serta kegembiraan menyambut hari kemenangan dan bersilaturahmi dengan karib kerabat.

dari Kompasiana

Hm, jadi belum ada etimologi resmi kata “lebaran”. Tapi, walaupun ada, maknanya bagi setiap orang pasti akan memiliki lapisan ya g berbeda-beda. Ada sisi sosialnya (bertemu kerabat), sisi spiritualnya (kembali ke fitrah), sisi biologisnya (makan-makan! Yum!), sisi ekonominya (belanja untuk diri sendiri dan keluarga), dan sisi-sisi lainnya yang belum kusebutkan.

Untuk anda, tahun ini sisi mana yang paling menonjol?

Nasihat Almarhum Kakek Saya

Ketika saya masih TK, kakek saya yang sekarang almarhum sering mengajak saya untuk tidur di kamarnya.  Tapi saya tidak pernah mau.  Saya tahu beliau selalu tidur tanpa lampu satupun menyala.  Saya yang masih kecil takut akan kegelapan.

Suatu hari akhirnya saya mau juga dibujuk untuk tiduk di kamarnya.  Dan, benar, beliau mematikan semua lampu di dalam kamar.  Untuk waktu yang terasa sangat lama, saya tidak dapat tidur. Terlalu takut untuk terlelap.  Kakek saya akhirnya memulai pembicaraan yang saya ingat hingga hari ini.

Kakek: “Kok belum tidur, Ge?”

Saya: “Takut. Gelap!”

Kakek: “Emang kenapa kalau gelap?”

Saya: “Takut lihat setan.”

Kakek: “Emangnya kamu lihat ada setan?”

Saya: “Enggak sih…”

Kakek: “Kamu gak ngelihat setan karena gelap.  Kalau ada setan, dia pun gak bisa lihat kamu karena gelap.”

Saya: “…”

Kakek: “Dah, tidur sana.”

Kata-kata beliau dulu tidak terlalu menenangkan saya yang masih kecil.  Saya tetap saja susah tidur.  Tapi, saya yang sudah dewasa(?) sekarang baru mengerti maksud beliau.  Banyak sekali kekhawatiran kita akan masa depan yang penuh tanda tanya.  Kita takut akan segala kemungkinan buruk yang dapat terjadi.  Padahal kemungkinan hal baik yang dapat terjadi juga banyak.  Kenapa kita tidak fokus pada hal yang baik saja?  Tokh pada akhirnya kita tetap tidak tahu apa yang akan terjadi.  Yang kita tahu hanyalah kenyataan yang ada di hari ini.  Kenyataan bahwa kita punya pilihan untuk hidup terbelenggu ketakutan atau hidup bebas tanpa dibebani khayalan.

Ditipu Angka

Sahur tadi pagi Direktur Utama Bank Syariah Mandiri, Yuslam Fauzi, tampil di TV. Beliau memulai pembicaraannya dengan memberikan berbagai angka mengenai jumlah umat Islam di Indonesia. Salah satunya adalah bahwa ada lebih banyak jumlah muslim di Indonesia dari pada di seluruh Timur Tengah. Dari sini beliau menyimpulkan bahwa perilaku muslim Indonesia sangat mempengaruhi dunia Islam keseluruhannya.

Hm, apa iya?

Banyak belum tentu penting, apa lagi jaman sekarang, saat teknologi telah mengurangi harga produksi dan distribusi informasi ke hampir nol.

Manusia memang tetap menjadi faktor produksi yang penting, tapi titik jenuhnya sudah makin rendah. Betul, saat negara tidak memiliki cukup anak muda (Jepang, misalnya) akan ada masalah ekonomi yang timbul. Keadaan ekonomi mereka akan membaik bila mereka memiliki satu juta manusia usia produktif tambahan. Tetapi, kalau kita lihat Indonesia, apakah kita akan mengalami perbaikan ekonomi yang sama besarnya bila kita mendapatkan tambahan satu juta manusia usia produktif?

Yang penting bukan jumlah orangnya. Yang penting nilai orang tersebut.

Misalnya suami istri. Kalau ada masalah terus-menerus, menambah jumlah pasangan tidak akan memperbaiki masalah. Yang perlu adalah memperbaiki diri, ya kan?

Ini bukan cuma masalah teori ekonomi produksi dan populasi. Ini masalah organisasi dan marketing juga.

Contoh nyata:

Saat ini Samsung punya dua pilihan: tingkatkan market share atau tingkatkan profitability.

Sebenarnya kita semua punya pilihan yang sama dalam hidup. Apa yang kita cari dari hidup? Jumlah atau nilai dan makna?

Mudik Setiap Hari

Mudik dalam arti berbondong-bondong memenuhi angkutan umum sembari membawa kardus Indomie yang penuh oleh-oleh, diikat dengan tali rafia mungkin khas Indonesia. Tapi mudik dalam arti migrasi masal kembali ke kampung halaman di hari besar ada di mana-mana. Thanksgiving weekend dan liburan Natal di US dan Canada, Diwali di India, banyak lagi contohnya. Sekali dua kali setahun manusia merasa perlu untuk pergi ke tempat asalnya, tempat di mana orang mengenal mereka bukan dari jabatan atau aktifitas harian mereka, melainkan dari sesuatu yang lebih mendasar. Tempat di mana mereka dikenal apa adanya.

Lucunya saat sudah merantau atau sudah berkeluarga, kita merasa tempat ideal ini ada di rumah orang tua kita. Sedangkan saat kita masih SMP atau SMA, tempat ideal ada sejauh mungkin dari orang tua kita. Kita merasa orang tua tidak mengerti hidup kita, dan hanya sahabat kitalah yang benar-benar mengerti siapa kita sebenarnya. Semakin kita tua, kita makin merasa teman-teman kita tidak mengenal kita, dan hanya orang tua kita lah yang benar-benar mengerti apa yang kita jalani.

Saya rasa masalah sebenarnya adalah kita tidak benar-benar mengerti diri kita sendiri. Perjalanan mudik yang penuh stress dan kenakalan remaja yang berbahaya sebenarnya adalah taktik tersembunyi otak kita agar kita terdorong masuk ke dalam posisi yang menyulitkan. Who you really are shows under pressure dan kita membutuhkan momen-momen tersebut, saat dimana siapa kita sebenarnya muncul ke permukaan. Stres dan capeknya mudik itu yang kita cari. Lelahnya perjalananlah yang membuat tempat tujuan menjadi sangat nyaman. Sama seperti lapar dan hausnya puasalah yang membuat berbuka terasa nikmat.

Masuk akal kah? Atau ini cuma ocehan orang lapar yang menderita karena tidak dapat jatah libur untuk 17’an dan lebaran?

Filsafat lahir dari penderitaan yang tak terhindarkan.

Suatu hari nanti anak muda akan berhenti naik motor

Mungkin ini adalah pernyataan yang absurd saat ini. Lagipula angka penjualan motor terus naik di kota-kota besar.  Tapi ini sedang musim panasnya alat transportasi pribadi di Indonesia.  Bagaimana saat musim dinginnya nanti?  Yang akan menang adalah yang mulai mempersiapkan diri dari sekarang.  Mereka yang cuma berpesta di saat musim panas akan menyesal nantinya.  Lihat saja brand seperti Nokia dan BlackBerry di Indonesia.

Di Indonesia mobil dan terutama motor masih menjadi simbol kebebasan untuk anak muda. Ada juga yang mengadopsinya lebih dalam dan menjadikannya simbol kepribadiannya, diejawantahkan dengan cara yang berbeda-beda.  Vespa tua bisa diubah menjadi retro cool atau jadi kendaraan ala Tikus Got.

Lucunya kalau kita lihat ke Amerika. Di negara yang car culture-nya amat terasa, anak muda malah menganggapnya sebagai beban. Industri mobil di sana bingung. Setiap tahun makin jumlah anak muda yang ikut tes SIM berkurang, demikian juga jumlah anak muda yang memiliki kendaraan, dan jarak yang dikendarai oleh anak muda yang memiliki kendaraan. Semuanya menyusut.

Apakah ini akan menjadi masalah di Indonesia? Mungkin tidak dalam 5 tahun mendatang. Bagaimana dengan di Jakarta? Apakah ini akan terjadi di sini? Bila transportasi publik terus jelek seperti sekarang, mungkin tidak akan terjadi. Penjualan motor akan terus naik. Tapi bila ternyata Jakarta menjadi lebih baik, transportasi publik menjadi lebih layak (*uhk* pilih Jokowi *uhk*) masyarakat akan lebih senang tapi produsen motor mungkin perlu mulai memikirkan strategi pemasaran yang lebih dari sekedar bersaing harga cicilan.

Kita bisa belajar dari apa yang terjadi di US, dan bagaimana produsen mobile domestik di sana berusaha mendapatkan kembali pangsa pasar anak muda. Hint: jawabannya bukan dengan iklan ataupun edukasi. Berikut preview-nya:

Yang penting bukan tahu banyak. Yang penting tahu yang penting

Siapa yang bisa menduga bahwa membuat kantor menjadi paperless bisa punya efek negatif terhadap lingkungan?

Saatnya memakai koran untuk mengelap bokong?

More toilet paper used to be made out of recycled office paper, but now that offices are going paperless, there’s less of the really high quality recyclable paper — the kind with the long fibers — to go around, notes Keira Butler in Mother Jones.

artikel lengkap di Grist.org

Katanya kan manusia berencana, Tuhan mentertawakan menentukan.  Pada dasarnya banyak sekali konsekuensi tidak terduga yang dapat terjadi ketika kita melakukan sesuatu, sampai-sampai melakukan perencanaan itu lebih penting dari memiliki rencana.

Bila pasukan tentara melakukan perencanaan mendetil dan dengan penuh disiplin memaksakan untuk mengikutinya verbatim, pasukan itu akan kalah. No plan ever survive execution. Yang penting adalah proses melakukan perencanaannya, memiliki titik-titik strategis yang harus tercapai, dan memastikan pasukan mampu beradaptasi terhadap perubahan.

Sama halnya dengan dunia bisnis. Mahasiswa didorong untuk membuat marketing plan yang mendetil dan karyanya dinilai dari serangkaian checklist yang mencakup segala macam tetek bengek, padahal pada saat eksekusi TIDAK AKAN ADA YANG TERLAKSANA SESUAI RENCANA. Kualitas seorang marketer bukan dilihat dari seberapa tebal skripsinya. Kualitas seorang marketer dilihat dari rasa percaya dirinya ketika memilah mana yang penting dan mana yang bullshit.

Skill-based economy sudah lewat. Knowledge-based economy masih berjaya. Tapi anda belajar bukan untuk hari ini kan? Anda belajar untuk esok hari. Dan besok jaman sudah berbeda. Besok sudah jamannya Insight-based economy.