Berhentilah Membodohi Anak Muda

by Ghani Kunto

Manusia itu sebenarnya terlahir pintar. Tapi entah bagaimana makin lama kita jadi semakin bego. Kita mulai berpikir bahwa kita perlu sekolah yang tinggi agar otak kita bisa diisi ilmu dan kita harus mengikuti pemimpin berwibawa yang tegas dan bisa memberitahu kita apa yang harus dilakukan. Ujung-ujungnya kita lepas tangan dan tidak mau bertanggung jawab dengan nasib kita sendiri. Dan kita membangun struktur sosial dan struktur organisasi untuk menjaga rakyat/karyawan/konsumen tetap lemah mentalnya. Lihat saja janji-janji pilkada dan tunjangan karyawan. Semuanya didasarkan pada asumsi bahwa manusia itu lemah dan bodoh, dan manusia itu butuh sosok ajaib/organisasi perkasa untuk turun ke bumi dan membantu kita.

Dan mau saja kita dibodohi.

Tapi untungnya masih banyak orang-orang yang mau mengikuti instingnya untuk saling membantu dan memperbaiki hidupnya tanpa menunggu uluran tangan. Komunitas Semut Oranye misalnya yang memberikan layanan tambal ban gratis untuk mereka yang terkena ranjau paku. Ada juga Komunitas Sapu Bersih Ranjau yang melakukan kegiatan rutin membersihkan paku-paku yang bertebaran di jalan di Jakarta. Inilah yang namanya emergent functionality di mana solusi akan hadir dengan sendirinya bila organisasi/perusahaan/pemerintah/”kepemimpinan” tidak menghalangi.

Pelajaran untuk pemasaran anak muda
Setiap kali brand anda melakukan “strategi pemasaran anak muda” yang ujung-ujungnya menyewa artis ternama atau bikin acara dengan breakdancers dsb, anda sedang melakukan pembodohan massal. Anda sedang membodohi anak muda, diri sendiri, dan organisasi anda sendiri. Entah sampai kapan anda mau membodohi diri sendiri dan entah sampai kapan organisasi anda dapat dibodohi (kemungkinan besar: selamanya, karena organisasi itu pada dasarnya bodoh) tapi yang jelas anak muda sudah tidak mau dibodohi lagi. Sure mereka akan tetap datang ke event anda dan sure anda akan dapat kenaikan penjualan sesaat dari uang receh mereka, tapi mereka akan memberikan seluruh isi kantong mereka ke kompetitor anda yang menghormati mereka, yang tahu anak muda sudah tidak butuh meminjam pamor brand lagi.

Dulu mereka ingin jadi keren dan mereka menunggu brand keren turun dari awan untuk menaikkan derajat mereka. Sekarang pun mereka ingin jadi keren, tapi mereka sudah memiliki teman (offline dan online) yang menerima mereka apa adanya.

NB: Berhubung sempat bicara tentang konsep emergent functionality, ini contohnya di alam bebas (pas bicara tentang Semut Oranye pula)

Advertisements