#IYC, Kenapa Jadi Sponsor Saja?

by Ghani Kunto

Hari ini Indonesian Youth Conference (IYC) sedang seru-serunya berjalan.

Yang bikin saya penasaran adalah peran merek di acara ini. Ini acara yang potensinya luar biasa tapi kenapa brand yang ikut terlibat hanya ikut serta di level itu-itu saja? Sponsor? Media partner? Come on! Pasang spanduk sudah gak ada artinya sekarang. Apa bedanya dengan spanduk yang dijadikan dinding warung kaki lima? Di-mention (online/offline) “terima kasih atas dukungannya”, dapat logo + link di website, untuk apa semua ini?

Ini semua hal remeh temeh yang dianggap penting karena brand fokus kepada hal-hal yang sudah tidak berarti lagi dan kepada sasaran jangka pendek. Sukses tidaknya sponsorship suatu kegiatan jadi dilihat dari berapa besar banner merek sponsor, atau booth, atau di mana saja logo brand terlihat, atau berapa kali di-mention di media, atau berapa banyak click-thru dari website acara.

Bayangkan bila kita fokus ke sasaran penting jangka panjang. Kenapa tidak fokus di satu bagian dari IYC, sesi tentang olahraga misalnya. Kan bisa mendukung semua yang tertarik dengan olahraga ini sebelum dan sesudah acaranya. Mungkin bisa bikin platform untuk menghubungkan komunitas anak muda yang passionate tentang olahraga dengan tim Olimpiade kita. Cari komunitas yang jumlah penggemarnya tidak sebanyak badminton atau sepak bola, tapi justru itulah yang membuat mereka tepat untuk didukung.

Penyelenggara acara ya tidak akan menawarkan opsi ini, karena fokus mereka kan untuk mensukseskan acaranya, bukan mensukseskan youth marketing anda. Ini butuh inisiatif dari anda sendiri.

***

PROTIP: Pilih cause marketing yang tepat dengan DNA (karyawan) perusahaan anda, bukan yang kebetulan sedang trend. Contoh yang perlu ditiru: Starbucks Community Service.

Advertisements