Magnum Cafe: pemasaran mubazir?

by Ghani Kunto

Sampai sekarang saya penasaran, kenapa Magnum Cafe ditutup?

Mubazir.

Inilah akibat fokus mengukur keberhasilan jangka pendek seperti peningkatan awareness dan sales sementara.  Kenapa tidak ada yang sadar bahwa strategi pemasaran hanya dianggap berhasil bila saat kampanye berhenti, penjualan terus naik?

Bayangkan kalau Magnum Cafe digarap dengan pemikiran jangka panjang.  Ini bisa jadi frontline-nya Unilever untuk mengimplementasikan Net Promoter System ala Apple Store, atau jadi laboratorium untuk sumber inovasi seperti Apple Summer Camp.  Setidaknya ini bisa personifikasi nyata brand Magnum, seperti yang dilakukan RedBull dengan RedBull Music Academy.  Ini bisa memenuhi kebutuhan ruang sosial.

Yah, sayangnya Walls kembali lagi jualan es krim ini dengan menggunakan celebrity endorsement.  Welcome back to mediocrity!

Benar-benar mubazir.

***

Tulisan di atas saya tulis di awal 2012. Tentu saja para penggemar Magnum tau kalau #MagnumNewCafe sebentar lagi akan launching. Soal buzz dan perhatian masa tentang cafe baru ini saya yakin akan lumayan tinggi. Yang mengurus launchingnya jagoan social media. Tapi kekhawatiran saya masih ada: sayang sekali bila ini menjadi sekedar alat pendongkrak pamor brand, padahal bisa menjadi alat untuk membangun relationship yang nyata dengan anak muda.

Advertisements