Ambisi dan Kata Hati

by Ghani Kunto

Beberapa minggu yang lalu salah satu petinggi di Washington menulis artikel berjudul Why Women Still Can’t Have It All dan menghangatkan kembali diskusi mengenai gender issues. Tapi menurutku isu yang harusnya dibahas adalah tentang ambisi. Menurut Jack Donaghy dari 30 Rock: “Ambition is the willingness to kill the things you love and eat them to survive.” Tentu ambisi orang biasanya tidak sesadis itu, tapi sebenarnya sepenting apa sih ambisi itu? Apakah suatu organisasi memang akan jadi lebih baik bila penuh dengan orang penuh ambisi?

Menurutku, organisasi (dan negara ini) akan lebih baik bila memiliki lebih banyak orang berjiwa seniman. Orang-orang seperti Aiptu Ma’ruf di Papua yang mengikuti kata hatinya.

Aiptu Polisi Ma’ruf, pria kelahiran tahun 1967 asal Magelang yang ditugaskan di Sota, sebuah kabupaten yang merupakan perbatasan NKRI – Papua New Guinea terhitung tahun 1993.

Di awal-awal masa penempatan Aiptu Ma’ruf sebagai penjaga perbatasan, hanya terdapat sebuah tugu sederhana yang tak terawat.

Maka, dalam mengisi pengabdian sebagai polisi penjaga perbatasan, beliau berinisiatif untuk membangun tugu itu dan merawatnya dengan baik, yang anggarannya diambil dari uang gajinya yang sebenarnya pun masih harus pintar-pintar mengatur untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Pekerjaan itu tentunya memakan waktu cukup lama dan tahap demi tahap karena sebagian besar mengandalkan dana pribadi. Tidak hanya tugu yang menjadi konsentrasi pembangunan, namun juga pembuatan taman yang kelak akan mendukung terciptanya kesan asri saat pertama kali siapapun menginjakkan kaki di bumi Indonesia.

Ibarat pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, maka gapura/tugu perbatasan itu kini telah menjadi sebuah gapura indah, bercat merah putih, dengan lambang Garuda, bertuliskan ”Good By and See You Another Day”, dan di baliknya atau di sisi Papua New Guinea terdapat tulisan ”Wellcome to Indonesia”.

Di sekitar tugu, tanaman, bunga dan pepohonan diatur sedemikian rapi sehingga lebih tepat disebut sebagai sebuah taman yang asri dan terawat. Ada bebarapa mainan anak-anak seperti jungkat-jungkit, ayunan dari ban bekas yang cukup menghibur pengunjung yang biasanya akan ramai di hari Minggu.

Tak jauh dari taman itu, terdapat bangunan kayu bernuansa etnis Papua, beratapkan alang-alang yang tersusun rapi. Rangka atap adalah ranting-ranting pohon yang diikat dengan akar-akaran yang ada. Dalam bangunan tersebut terdapat tungku untuk penyulingan kayu putih yang cukup sederhana, yaitu dengan menggunakan ranting-ranting kayu sebagai kayu bakar.

Sebuah tugu sederhana yang terletak beberapa meter dari Pos Penjaga Perbatasan yang dijaga oleh Infanteri TNI, kini telah telah berubah menjadi tugu perbatasan Republik Indonesia dan Papua New Guinea yang kokoh berdiri dan sekaligus menjadi tempat wisata yang asri dan mengundang banyak wisatawan dari seluruh penjuru tanah air.

Aiptu Ma’ruf mengaku pernah diminta mutasi ke daerah lain yang berarti pula kenaikan jenjang karier dan jabatannya. Namun, penduduk setempat tak rela melepaskannya dan memintanya untuk berkenan tinggal di tempat yang memang telah dicintainya seperti kampung halamannya sendiri. Maka beliaupun memutuskan untuk tetap tinggal. Ketika di tanya host Kick Andy : ”Dengan menolaknya Anda pindah atau mutasi ke tempat lain, berarti apa pangkat terakhir Anda yang beberapa tahun ke depan akan pensiun?”

Beliau menjawab santai ”Ya…Aiptu”. Artinya beliau telah siap untuk tidak naik jabatan jika memang itu sebuah pengorbanan yang harus dilakukan.

dari http://lifestyle.kompasiana.com/

Apakah Aiptu Ma’ruf membangun taman itu karena cintanya pada tanah air?  Atau karena ingin menjadi contoh yang baik untuk anaknya?  Atau ingin masuk surga?  Yah, semuanya mungkin saja.

Tapi, menurut saya, orang-orang seperti beliau melakukannya karena ia mengikuti kata hatinya.

ASIDE: Menarik juga sebenarnya kalau ditelaah istilah “kata hati.”  “Hati” yang bisa berkata-kata ini ada di dalam diri kita namun juga ada di luar diri kita.  Mirip konsep muse kan?

Mau sukses di pemasaran anak muda? Get the right people.  Youth marketing itu lebih tentang mengikuti kata hati daripada strategi rumit njelimet gak jelas. Departemen HR sebenarnya sangat berperan dalam strategi marketing secara keseluruhan.  Apakah HRD mencari orang yang mengikuti kata hati atau orang yang kata hatinya sudah tertutupi oleh “pendidikan tinggi” dan “pengalaman kerja”?

Advertisements