Mengukur Youth Marketing

by Ghani Kunto

Kalau kita terfokus untuk mengukur awareness, inilah yang akan terjadi:

A: “Hey, kita harus pastikan semua orang tahu tentang kita.”

B: “Mmm, bos, semua orang memang sudah tau tentang kita…. ”

A: “Tapi jangan sampai kompetitor kita lebih dikenal dari kita!”

B: “Mmm, bos, tapi semua orang juga sudah tau tentang saingan kita…. ”

A: “Sudahlah, kamu bukan dibayar untuk mikir. Kamu dibayar untuk melaksanakan kehendak saya yang maha tahu, saya yang sudah bertahun-tahun bercokol di jabatan senior ini. Muahahahahaaaa!”

B: “…”

A: “Pasang iklan sana! Pasang iklan yang banyak! Pasang iklan sebanyak mungkin biar lawan kita gak bisa memakai tempat yang sama untuk beriklan!”

Dan ujung-ujungnya, mau melihat awan, yang terlihat billboard, mau menunggu azan, yang ada iklan.

Dan insan-insan marketing menepuk punggung sendiri bila marketing campaign-nya menang award, atau bila brandnya dianggap “Best”, “Top”, atau dinamakan brand favorit anak muda. Padahal ini semua gak penting.

Maxim “what’s measured gets done” itu tepat sekali, dan sayang sekali yang kita ukur itu sering kali tidak ada hubungannya lagi dengan bottom line. Sama saja kalau kita pikir berpuasa itu tentang menahan lapar dan haus. Kalau mau lebih mantap, ya kita bikin tambah lapar dan haus. Jadi gak sahur lah, atau puasa malam-malam lah (ada lho yang masih mengikuti ajaran sesat seperti ini).

Brand yang sukses dengan anak muda punya fokus yang berbeda dari brand yang “katanya” brand anak muda. Starbucks jarang beriklan oke-oke aja tuh. Banyak kok brand yang gak sok gaul yang sukses dengan anak muda.

Yang penting untuk diukur cuma satu: rekomendasi. Mau pakai NPS, pakai SMART Index, pakai apalah, yang penting ukur rekomendasi dan bikin sistem feedback yang mencakup semua departemen.

Advertisements