Bersyukurlah Bos Anda Marah-Marah

by Ghani Kunto

Kemarin istri saya pulang berkata, “Wih, seram. Belum pernah aku kerja di tempat yang orangnya kalau marah pada banting-banting pintu.” Setelah mendengar ceritanya, reaksi pertama saya adalah berkata, “Kantormu banyak anak kecil jadi bos ya?”

Tapi setelah dipikir-pikir, sebenarnya masih mending kerja di tempat itu daripada kerja di tempat yang bebas konfrontasi. Bisa jadi itu pertanda terlalu banyak Yes Man. Bisa juga pertanda keterbukaan yang keliru.

Keterbukaan yang keliru: Kantor punya open door policy, bos bilang “pintu saya selalu terbuka” dan privasi di kantor hampir nihil. Di tempat seperti ini, orang akan lebih berusaha keras untuk menghindari konfrontasi. Kan malu kalau marah-marah ditontonin.
~definisi ciptaan sendiri

Bisa juga tempat kerja anda bebas konfrontasi karena organisasinya terlalu hirarkis dan kaku. CEO-nya Kodak dulu pernah berkata bahwa inilah masalah Kodak. CEO Perez dikutip oleh Business Week mengatakan, “If I said it was raining, nobody would argue with me, even if it was sunny outside.” Budaya macam inilah yang membawa kehancuran Kodak. Bahkan saking parahnya, di hari perusahaan itu mengumumkan kebangkrutannya, inilah yang bisa dilihat di TL-nya Chief Blogger Kodak:

Denial tak mengenal batas

Jadi kepikiran, apa mungkin inilah yang diperlukan organisasi seperti Nokia dan BlackBerry. Mereka perlu orang-orang yang berani memperjuangkan ide-idenya sampai marah-marahan.

Orang ingin menghindari konfrontasi karena gak nyaman. Dan memang konfrontasi itu asal muasalnya hasil dari ego yang terlukai, itu pertengkaran yang tidak berguna. Tapi konfrontasi yang berasal dari niat bersama untuk memperbaiki organisasi? Wajib itu!

Advertisements