Anak Muda dan Ekosistem Marketing Anda

by Ghani Kunto

Teman saya ada yang takut sama kucing. Kalau kita makan di warung, dia stress. Ketika dia honeymoon dengan suaminya ke Thailand, suaminya membawa dia untuk romantic dinner di pantai. Saat itupun dia stress, karena banyak kucing yang berkeliaran di sana. Dia merinding membayangkan bila ketika makan ada kucing yang menyentuh kakinya. Kalau dia yang punya resort tersebut, mungkin sudah dibasmi semua kucing yang ada di sana.

Dan bila itu dilakukan, apa yang akan terjadi?

Mungkin ketika makan, yang menyentuh kaki anda bukan kucing, tapi tikus.

Kita ingin bersih, eh malah jadi kotor.

Inilah yang sering terjadi dengan perusahaan yang sempat sukses, kemudian pudar. Mulai dari Sour Sally hingga Nokia, pada awalnya mereka memiliki core youth customers yang benar-benar suka sekali dengan produk mereka. Bahkan bisa dibilang cinta. Tapi ketika perusahaan-perusahaan ini berhenti fokus di core youth customers dan mulai mengejar mass market, mereka kehilangan satu-satunya hal yang membuat mereka spesial. Sayangnya sering kali mereka tidak menyadari ini sedang terjadi sebelum terlambat. Bahkan sebagian besar mereka tidak mengerti peran anak muda dalam ekosistem marketing, inovasi, dan customer service mereka, dan kalaupun tau, mereka tidak kenal siapa anak muda yang perlu dirangkul.

Ujung-ujungnya cross promotion lagi. Beli HP dapat tiket nonton? Beli rumah dapat yoghurt? Gak nyambung ah!

Advertisements