TV di Saat Sahur (Why TV Sucks)

by Ghani Kunto

Gak ada lagi deh nonton TV saat sahur.

Biasanya nonton Para Pencari Tuhan tapi sekarang sudah tidak lucu lagi. Yang ada malah pesan-pesan yang tidak saya setujui. Sexisme dibalut alasan agama. Mulai dari Azam (salah satu laki-laki karakter utama) ber-soliloquy, “perempuan selalu sibuk dengan perasaannya sendiri, makanya gak bisa jadi imam,” hingga istrinya yang menjelaskan bahwa wanita itu lemah. Ini bukan representasi Islam yang ada di hatiku. Ini propaganda hirarki sosial paternal yang berkedok agama. Saya tidak sudi istri dan anak perempuan saya diperlakukan sebagai manusia lemah yang dirajai emosi. Tidak peduli laki-laki atau perempuan, kalau semua orang disekitar kita setiap hari secara aktif mengatakan kita lemah dan bodoh, mau gak mau fisik dan mental kita akan terpengaruhi.

Belum lagi semua iklan untuk produk kecantikan dan kesehatan. Semuanya menampilkan perempuan yang khawatir dengan kulit yang kusam, rambut yang kusut, ketiak yang berwarna gelap, dan komedo yang hanya terlihat di bawah kaca pembesar. WTF? Kalau setiap hari saya melihat iklan tentang laki-laki yang khawatir dengan rambut yang menipis atau lipatan lemak yang ada, saya akan jadi manusia yang penuh insecurity. Saat ini penyedia jasa dan produk yang menikmati insecurity-nya laki-laki masih di dominasi Mak Erot dan perusahaan pompa vakum Swedia (ehm, ehm) dan ini pun akibat program cuci otak yang mengatakan bahwa alat kelamin adalah “kejantanan.” Maaf, sebesar apapun penis anda, kalau anda pengangguran yang tidak aktif mencari kerja, anda tidak jantan. (Agar tidak salah pengertian, menurut saya kejantanan juga tidak diukur dari pekerjaan anda tapi dari apa yang anda kerjakan tiap harinya.)

Mungkin ada seorang advertiser di luar sana yang membuat iklan tentang seorang laki-laki berwajah tampan dan berbadan tegap yang berdiri di depan kaca sambil mencubit sedikit kulit di sekitar perut six-pack-nya sembari berkata, “Bagaimana ya cara menghilangkan selulit bandel ini?” Bayangkan bila tiap hari kita melihat iklan yang sama dan sejenis di televisi. Jadi seperti apa laki-laki di dunia ini?

Iklan memang efektif untuk menggugah emosi, tapi payah dalam menaikkan penjualan jangka panjang. Dengan berkurangnya tingkat efektifitas iklan dalam mendorong orang untuk membeli, banyak brand dan advertisers yang memilih untuk meningkatkan jumlah iklan. Ujung-ujungnya kita mendapatkan dunia yang penuh dengan pesan-pesan yang tidak efektif dalam meningkatkan penjualan namun efektif dalam merusak mental bangsa.

Akhirnya media kita dipenuhi dengan acara berbalut pesan moral aneh, diselingi oleh iklan-iklan yang mengingatkan anda bahwa “You’re not good enough!” terutama bila anda perempuan. Belum lagi acara gosip yang memuja orang-orang yang memuja dirinya sendiri dan warta berita yang isinya melulu tentang betapa menakutkannya dunia ini.

Sahur? Hah, saya tidak akan nonton televisi lagi, ever!

… kecuali HBO. Karena it’s not TV, it’s HBO, heheh.

***

PS: Saya juga sadar, walau dari dulu saya menjaga agar acara TV dan radio yang saya bawakan tidak berisi racun otak, mungkin saja iklan-iklan yang menghidupi acara-acara tersebut sebenarnya sama merusaknya. Entahlah. I didn’t care enough to pay attention back then. Dulu masih terlalu lapar (lapar duit dan lapar perhatian). Sepertinya itulah salah satu motivasi saya dalam berkerja. Saya ingin lumayan nyaman secara finansial sehingga bisa mengacungkan jari tengah pada hal-hal yang tidak saya sukai.

Advertisements