Jangan Membangun Dialog Melalui Social Media

by Ghani Kunto

Orang Indonesia aktif di social media? Bukan berita lagi lah itu.  Bahkan ketika Rovio meluncurkan Facebook app-nya Angry Birds, mereka melakukannya di Jakarta.  Yang aneh adalah brand menganggap ini berarti mereka harus lebih banyak berinteraksi dengan customers lewat social media.  Ini ngaco.

Orang memakai social media untuk berinteraksi dengan sesama.  Ketika brand mulai “berdialog” dengan customers biasanya malah mengganggu pembicaraan orang.  Ini hasil pola pikir interruptive marketing yang sudah jadi bawaannya banyak marketers.  Kita lebih terlatih untuk beriklan soalnya, bukan untuk memfasilitasi dialog.

Kalau brand anda serius ingin menjajal socmed, harusnya anda mendorong agar semua karyawan anda rajin memakai social media.  Gak perlu menciptakan jabatan aneh-aneh seperti “Social Media Marketing Manager.” Itu cuma akan menciptakan lebih banyak masalah.

Contohnya:

“Gue tadi baca di timeline gue ada yang punya masalah dengan produk kita.  Gue pengen kasih solusinya tapi harus di-meeting-in dulu dengan SocMed Manager kita.”
Buset, kenapa gak langsung aja di jawab?

Itulah kecenderungan organisasi kebanyakan. Seolah-olah logikanya: “Kuda kakinya empat, larinya cepat. Kalau kakinya lima pasti lebih cepat lagi larinya.”

Inilah sebabnya mengapa begitu anda mendengar ada yang mengusulkan untuk membangun conversation dengan customer lewat social media, anda harus memastikan ide itu tidak sampai di organisasi anda. Karena, bila sampai di organisasi, all hell breaks lose.

Advertisements