Hidup Itu Untuk Dialami, Bukan Untuk Diukur

by Ghani Kunto

Tidak terasa sudah lebih dari sebulan saya menulis tiap hari (kecuali hari Minggu).  Ada yang suma sekedar beberapa baris, ada juga yang lumayan panjang.  Target awalnya adalah untuk menulis tulisan sependek mungkin.  Satu post dengan satu pokok pikiran dan tidak perlu terlalu lengkap.

Lumayan bangga juga bisa melakukannya.  Dulu saya sudah terlalu biasa beralasan, “Capek, seharian dah nulis, bikin presentasi, dan rekaman untuk kerjaan, gak kuat nulis lagi.”  Eh, ternyata mampu.  Padahal dulu pernah ikutan gerakannya Maradilla, #30harimenulis, itu pun berhenti di tengah jalan.

Sering kali perubahan itu dihalangi oleh perencanaan.  Rencana menulis 30 hari terus-menerus, gagal.  Rencana menulis buku gagal.  Mungkin ini karena terlalu sering mengukur kemajuan.  Iya, arah dan tujuan jangka panjang penting, tapi mengukur kemajuan malah sering menjadi beban psikologi.  Asal tahu rencana besarnya, kita hanya perlu fokus ke langkah berikutnya, tidak usah khawatir dengan mengukur kemajuan.  Toh dengan demikian bisa menulis post setiap hari selama lebih dari sebulan.  Toh dengan demikian sudah bisa menerbitkan 3 buku.

Tapi dorongan untuk mengukur itu kuat sekali ya?  Sama seperti laki-laki yang suka mengintip ke cowok yang sedang kencing di sebelahnya untuk diam-diam membandingkan ukuran alat kelamin.  Dengan segala macam analytics yang tersedia, sangat mudah untuk terobsesi pada ukuran.  Saya sendiri suka melihat stats blog ini dan berpikir, “Wah, ternyata posting tentang Nokia dan BlackBerry itu yang paling populer.  Harus lebih sering nulis tentang brand!”  Padahal awalnya saya menulis blog ini sebagai penyaluran pikiran yang tidak dapat disalurkan di tempat kerja.  Sebagian besar tentang youth marketing, tapi tidak selalu.  Saya menulis blog ini untuk saya, bukan untuk orang lain.  Terserah ada yang mau membaca atau tidak.  Tapi yah, godaan sangat kuat sehingga ujung-ujungnya banyak menulis tentang brand seperti Nokia dan BB.

Sebenarnya obsesi mengukur ini manjadi masalah yang lumayan sering muncul di kehidupan profesional dan pribadi.  Padahal terlalu sering mengukur bisa membuat kita terlalu terfokus pada jangka pendek, membuat mental mode kita masuk ke mode yang baik untuk hitung-hitungan mendetil, tapi payah untuk kreatifitas.  Ini menjadi faktor di economic crash tahun 2008 dan corporate governance sehari-harinya.  Dan dalam kehidupan keluarga, it makes you an asshole.

Menurut Kurt Vonnegut, kita cuma lumpur yang beruntung karena dihidupkan Tuhan dan yang penting bukanlah pencapaian kita (toh ujung-ujungnya kita akan kembali menjadi lumpur lagi) tapi pengalaman kita selama hidup.  Menurut saya ini filosofi yang tepat untuk hidup.  Kenapa filosofi di tempat kerja harus berbeda?

***

Siapa tau saja tertarik, berikut cuplikan dari Kurt Vonnegut’s Cat’s Cradle:

“God made mud.
God got lonesome.
So God said to some of the mud, “Sit up!”
“See all I’ve made,” said God, “the hills, the sea, the
sky, the stars.”
And I was some of the mud that got to sit up and look
around.
Lucky me, lucky mud.
I, mud, sat up and saw what a nice job God had done.
Nice going, God.
Nobody but you could have done it, God! I certainly
couldn’t have.
I feel very unimportant compared to You.
The only way I can feel the least bit important is to
think of all the mud that didn’t even get to sit up and
look around.
I got so much, and most mud got so little.
Thank you for the honor!
Now mud lies down again and goes to sleep.
What memories for mud to have!
What interesting other kinds of sitting-up mud I met!
I loved everything I saw!
Good night.
I will go to heaven now.
I can hardly wait…
To find out for certain what my wampeter was…
And who was in my karass…
And all the good things our karass did for you.
Amen.”

Advertisements