Suatu hari nanti anak muda akan berhenti naik motor

by Ghani Kunto

Mungkin ini adalah pernyataan yang absurd saat ini. Lagipula angka penjualan motor terus naik di kota-kota besar.  Tapi ini sedang musim panasnya alat transportasi pribadi di Indonesia.  Bagaimana saat musim dinginnya nanti?  Yang akan menang adalah yang mulai mempersiapkan diri dari sekarang.  Mereka yang cuma berpesta di saat musim panas akan menyesal nantinya.  Lihat saja brand seperti Nokia dan BlackBerry di Indonesia.

Di Indonesia mobil dan terutama motor masih menjadi simbol kebebasan untuk anak muda. Ada juga yang mengadopsinya lebih dalam dan menjadikannya simbol kepribadiannya, diejawantahkan dengan cara yang berbeda-beda.  Vespa tua bisa diubah menjadi retro cool atau jadi kendaraan ala Tikus Got.

Lucunya kalau kita lihat ke Amerika. Di negara yang car culture-nya amat terasa, anak muda malah menganggapnya sebagai beban. Industri mobil di sana bingung. Setiap tahun makin jumlah anak muda yang ikut tes SIM berkurang, demikian juga jumlah anak muda yang memiliki kendaraan, dan jarak yang dikendarai oleh anak muda yang memiliki kendaraan. Semuanya menyusut.

Apakah ini akan menjadi masalah di Indonesia? Mungkin tidak dalam 5 tahun mendatang. Bagaimana dengan di Jakarta? Apakah ini akan terjadi di sini? Bila transportasi publik terus jelek seperti sekarang, mungkin tidak akan terjadi. Penjualan motor akan terus naik. Tapi bila ternyata Jakarta menjadi lebih baik, transportasi publik menjadi lebih layak (*uhk* pilih Jokowi *uhk*) masyarakat akan lebih senang tapi produsen motor mungkin perlu mulai memikirkan strategi pemasaran yang lebih dari sekedar bersaing harga cicilan.

Kita bisa belajar dari apa yang terjadi di US, dan bagaimana produsen mobile domestik di sana berusaha mendapatkan kembali pangsa pasar anak muda. Hint: jawabannya bukan dengan iklan ataupun edukasi. Berikut preview-nya:

Advertisements