Mudik Setiap Hari

by Ghani Kunto

Mudik dalam arti berbondong-bondong memenuhi angkutan umum sembari membawa kardus Indomie yang penuh oleh-oleh, diikat dengan tali rafia mungkin khas Indonesia. Tapi mudik dalam arti migrasi masal kembali ke kampung halaman di hari besar ada di mana-mana. Thanksgiving weekend dan liburan Natal di US dan Canada, Diwali di India, banyak lagi contohnya. Sekali dua kali setahun manusia merasa perlu untuk pergi ke tempat asalnya, tempat di mana orang mengenal mereka bukan dari jabatan atau aktifitas harian mereka, melainkan dari sesuatu yang lebih mendasar. Tempat di mana mereka dikenal apa adanya.

Lucunya saat sudah merantau atau sudah berkeluarga, kita merasa tempat ideal ini ada di rumah orang tua kita. Sedangkan saat kita masih SMP atau SMA, tempat ideal ada sejauh mungkin dari orang tua kita. Kita merasa orang tua tidak mengerti hidup kita, dan hanya sahabat kitalah yang benar-benar mengerti siapa kita sebenarnya. Semakin kita tua, kita makin merasa teman-teman kita tidak mengenal kita, dan hanya orang tua kita lah yang benar-benar mengerti apa yang kita jalani.

Saya rasa masalah sebenarnya adalah kita tidak benar-benar mengerti diri kita sendiri. Perjalanan mudik yang penuh stress dan kenakalan remaja yang berbahaya sebenarnya adalah taktik tersembunyi otak kita agar kita terdorong masuk ke dalam posisi yang menyulitkan. Who you really are shows under pressure dan kita membutuhkan momen-momen tersebut, saat dimana siapa kita sebenarnya muncul ke permukaan. Stres dan capeknya mudik itu yang kita cari. Lelahnya perjalananlah yang membuat tempat tujuan menjadi sangat nyaman. Sama seperti lapar dan hausnya puasalah yang membuat berbuka terasa nikmat.

Masuk akal kah? Atau ini cuma ocehan orang lapar yang menderita karena tidak dapat jatah libur untuk 17’an dan lebaran?

Filsafat lahir dari penderitaan yang tak terhindarkan.

Advertisements