Ditipu Angka

by Ghani Kunto

Sahur tadi pagi Direktur Utama Bank Syariah Mandiri, Yuslam Fauzi, tampil di TV. Beliau memulai pembicaraannya dengan memberikan berbagai angka mengenai jumlah umat Islam di Indonesia. Salah satunya adalah bahwa ada lebih banyak jumlah muslim di Indonesia dari pada di seluruh Timur Tengah. Dari sini beliau menyimpulkan bahwa perilaku muslim Indonesia sangat mempengaruhi dunia Islam keseluruhannya.

Hm, apa iya?

Banyak belum tentu penting, apa lagi jaman sekarang, saat teknologi telah mengurangi harga produksi dan distribusi informasi ke hampir nol.

Manusia memang tetap menjadi faktor produksi yang penting, tapi titik jenuhnya sudah makin rendah. Betul, saat negara tidak memiliki cukup anak muda (Jepang, misalnya) akan ada masalah ekonomi yang timbul. Keadaan ekonomi mereka akan membaik bila mereka memiliki satu juta manusia usia produktif tambahan. Tetapi, kalau kita lihat Indonesia, apakah kita akan mengalami perbaikan ekonomi yang sama besarnya bila kita mendapatkan tambahan satu juta manusia usia produktif?

Yang penting bukan jumlah orangnya. Yang penting nilai orang tersebut.

Misalnya suami istri. Kalau ada masalah terus-menerus, menambah jumlah pasangan tidak akan memperbaiki masalah. Yang perlu adalah memperbaiki diri, ya kan?

Ini bukan cuma masalah teori ekonomi produksi dan populasi. Ini masalah organisasi dan marketing juga.

Contoh nyata:

Saat ini Samsung punya dua pilihan: tingkatkan market share atau tingkatkan profitability.

Sebenarnya kita semua punya pilihan yang sama dalam hidup. Apa yang kita cari dari hidup? Jumlah atau nilai dan makna?

Advertisements