Jalur sepeda? Ada-ada saja

by Ghani Kunto

Entah sudah sejak kapan jalur khusus sepeda sudah menjadi wacana di Jakarta.  Hasilnya?  Beberapa bagian kecil dari kota sudah memilikinya, tapi dari pemilihan tempat dan ruang lingkupnya, terlihat bahwa sepeda masih dianggap sebagai alat rekreasi, bukan alat transportasi.

Bila kita mengambil langkah kebelakang dan melihat gambaran besarnya, yang menjadi masalah adalah pola pikir us vs them yang sedemikian melekatnya di benak para pembuat keputusan:  “Kalau kasih jalur untuk sepeda, nanti pengendara mobil kekurangan ruang” dsb. Ujung-ujungnya kompromi yang tidak memuaskan siapapun.  Padahal masalahnya bukan ada jalur sepeda atau tidak.  Masalahnya adalah ketidakjelasan apa visi besar Jakarta.  Apakah ini tempat tinggal atau tempat untuk sekedar lewat?

Kalau untuk sekedar lewat, yang dibutuhkan adalah lebih banyak jalan layang dan peraturan yang mendorong Jakarta menjadi kompleks perkantoran dan perbelanjaan raksasa.  Kalau untuk tempat tinggal, kita banyaknya infrastruktur untuk sarana transportasi menjadi alat ukur semu yang kalah prioritas dengan alat ukur yang paling penting: kualitas hidup.

Bila kita ingin Jakarta yang lebih baik, kinerja pemerintah harus diukur dari peningkatan kualitas hidup yang menyeluruh.  Demikian juga dengan rencana-rencana kedepannya.

Alangkah indahnya suatu hari nanti DKI bisa menciptakan iklan jujur seperti Minnesota di bawah ini:

Advertisements