Ghani Kunto

Tales of Suspense: featuring …

Who Is The Next Agnes Monica?

Kalau bos anda bertanya, “Who is the next Agnes Monica?” apa yang akan anda lakukan?

Yang biasanya terjadi: “Saya akan cari tahu, Bos!” kemudian buru-buru nge-Google dan menyewa jasa agensi riset/pemasaran untuk cari tahu jawabannya.

Yang seharusnya terjadi: “Gak penting, Bos!” kemudian jelaskan pada bos anda kalau jaman sudah berubah, presiden sudah bukan Pak Harto lagi, orang sudah pernah jalan di bulan, ada hal kecil nih yang namanya internet, dan sudah saatnya kita berhenti melakukan pemasaran ala era Michael Jackson.

Hidup Itu Untuk Dialami, Bukan Untuk Diukur

Tidak terasa sudah lebih dari sebulan saya menulis tiap hari (kecuali hari Minggu).  Ada yang suma sekedar beberapa baris, ada juga yang lumayan panjang.  Target awalnya adalah untuk menulis tulisan sependek mungkin.  Satu post dengan satu pokok pikiran dan tidak perlu terlalu lengkap.

Lumayan bangga juga bisa melakukannya.  Dulu saya sudah terlalu biasa beralasan, “Capek, seharian dah nulis, bikin presentasi, dan rekaman untuk kerjaan, gak kuat nulis lagi.”  Eh, ternyata mampu.  Padahal dulu pernah ikutan gerakannya Maradilla, #30harimenulis, itu pun berhenti di tengah jalan.

Sering kali perubahan itu dihalangi oleh perencanaan.  Rencana menulis 30 hari terus-menerus, gagal.  Rencana menulis buku gagal.  Mungkin ini karena terlalu sering mengukur kemajuan.  Iya, arah dan tujuan jangka panjang penting, tapi mengukur kemajuan malah sering menjadi beban psikologi.  Asal tahu rencana besarnya, kita hanya perlu fokus ke langkah berikutnya, tidak usah khawatir dengan mengukur kemajuan.  Toh dengan demikian bisa menulis post setiap hari selama lebih dari sebulan.  Toh dengan demikian sudah bisa menerbitkan 3 buku.

Tapi dorongan untuk mengukur itu kuat sekali ya?  Sama seperti laki-laki yang suka mengintip ke cowok yang sedang kencing di sebelahnya untuk diam-diam membandingkan ukuran alat kelamin.  Dengan segala macam analytics yang tersedia, sangat mudah untuk terobsesi pada ukuran.  Saya sendiri suka melihat stats blog ini dan berpikir, “Wah, ternyata posting tentang Nokia dan BlackBerry itu yang paling populer.  Harus lebih sering nulis tentang brand!”  Padahal awalnya saya menulis blog ini sebagai penyaluran pikiran yang tidak dapat disalurkan di tempat kerja.  Sebagian besar tentang youth marketing, tapi tidak selalu.  Saya menulis blog ini untuk saya, bukan untuk orang lain.  Terserah ada yang mau membaca atau tidak.  Tapi yah, godaan sangat kuat sehingga ujung-ujungnya banyak menulis tentang brand seperti Nokia dan BB.

Sebenarnya obsesi mengukur ini manjadi masalah yang lumayan sering muncul di kehidupan profesional dan pribadi.  Padahal terlalu sering mengukur bisa membuat kita terlalu terfokus pada jangka pendek, membuat mental mode kita masuk ke mode yang baik untuk hitung-hitungan mendetil, tapi payah untuk kreatifitas.  Ini menjadi faktor di economic crash tahun 2008 dan corporate governance sehari-harinya.  Dan dalam kehidupan keluarga, it makes you an asshole.

Menurut Kurt Vonnegut, kita cuma lumpur yang beruntung karena dihidupkan Tuhan dan yang penting bukanlah pencapaian kita (toh ujung-ujungnya kita akan kembali menjadi lumpur lagi) tapi pengalaman kita selama hidup.  Menurut saya ini filosofi yang tepat untuk hidup.  Kenapa filosofi di tempat kerja harus berbeda?

***

Siapa tau saja tertarik, berikut cuplikan dari Kurt Vonnegut’s Cat’s Cradle:

“God made mud.
God got lonesome.
So God said to some of the mud, “Sit up!”
“See all I’ve made,” said God, “the hills, the sea, the
sky, the stars.”
And I was some of the mud that got to sit up and look
around.
Lucky me, lucky mud.
I, mud, sat up and saw what a nice job God had done.
Nice going, God.
Nobody but you could have done it, God! I certainly
couldn’t have.
I feel very unimportant compared to You.
The only way I can feel the least bit important is to
think of all the mud that didn’t even get to sit up and
look around.
I got so much, and most mud got so little.
Thank you for the honor!
Now mud lies down again and goes to sleep.
What memories for mud to have!
What interesting other kinds of sitting-up mud I met!
I loved everything I saw!
Good night.
I will go to heaven now.
I can hardly wait…
To find out for certain what my wampeter was…
And who was in my karass…
And all the good things our karass did for you.
Amen.”

Belajar dari Super Mario Bros dan Nintendo, pt. 2

Bagaimana nasib Nintendo nantinya?

Entahlah.

Tapi yang jelas kita bisa belajar banyak dari kesuksesan-kesuksesan sebelumnya. Salah satu filosofi yang utama di perusahaan itu adalah Kareta Gijutsu no Suihei Shikou, “berpikir lateral dengan teknologi jadul.” Yang penting bukanlah menciptakan sesuatu yang baru dan mutakhir. Yang penting adalah memastikan bahwa Nintendo bisa menciptakan produk yang cukup untuk memberikan experience yang tepat. Kalau meminjam istilah Youth Marketing Academy, fokus di Context bukan di Content.

Apple juga sama lho. Yang suka mereknya mengatakan bahwa produk Apple sangat inovatif. Yang sirik mengatakan produk Apple itu overpriced untuk teknologi yang gitu-gitu aja. Lho, justru itu kan hebatnya? Teknologinya biasa saja tapi di kepala banyak orang, Apple sangat inovatif. Kok bisa?

Yang jelas bukan karena Apple sibuk beriklan mengatakan merekalah yang paling inovatif.

Belajar dari Super Mario Bros dan Nintendo, pt. 1

Salah satu sebab kenapa Mario bisa jadi sangat populer adalah karena mukanya yang tidak jelas. Saat kita memainkan Super Mario Bros, idealnya kitalah yang sedang bertualang, bukan si Mario. Yang kita ketahui tentang dia cuma profesinya (plumber), bentuk tubuhnya (gemuk), dan mungkin jenis etnisnya (Itali). Justru karena kita tidak banyak tahu tentang dia, kita jadi mudah untuk berkhayal kalau kitalah Mario.

Yang doyan membaca komik jepang mungkin sudah pernah dengar istilah yang menjelaskan phenomena ini. Namanya: masking effect. Karakter di komik Jepang mukanya aneh? Ya memang disengaja. Matanyanya terlalu besar dan rambutnya warna warni sehingga tidak jelas lagi karakter itu orang dari mana. Inilah masking effect, dan inilah yang menjadikan manga sangat populer. Masking effect jugalah yang menjadi sebab kenapa Master Chief tidak pernah melepas helmnya dan video game Spiderman menjadi game berdasarkan karakter Marvel yang paling sukses.

Kita ingin menjadi bagian dari cerita yang kita baca. Kita ingin jadi bagian dari game yang kita mainkan.

Dalam branding pun sama. Kita ingin menjadi bagian dari cerita yang ada.

Nah, cerita siapa yang mendapatkan perhatian dalam branding anda? Cerita merek anda atau cerita customer anda?

Anak Muda Ingin Didengar. Benarkah?

Jika anda bertanya kepada anak muda apa yang dia inginkan, mungkin dia akan menjawab: “ingin suaranya didengar.”

Tapi, apakah dia ingin didengarkan oleh anda dan organisasi anda, atau dia ingin didengarkan oleh anak muda lain dan masyarakat luas?

Implikasinya sangat berbeda.

Bila anda pikir dia ingin didengar oleh anda, ujung-ujungnya nanti anda akan membangun infrastruktur ala Homeland Security-nya US, atau Data Retention Directive-nya Eropa. Sesuatu yang uber-creepy dan menurut saya melanggar etika. (lihat video di akhir tulisan ini).

Bila anda pikir dia ingin didengar oleh banyak orang, baru anda dapat membangun berbagai macam permission asset untuk sarana marketing anda.

Iya, anak muda ingin didengar and ingin berdialog, tapi bukan dengan anda.

It’s not always about you, you know.

==

Untuk tahu lebih banyak tentang apa saja yang sudah diketahui “mereka” tentang kita:

Branding VS Dialogue

Kata dialog berasal dari bahasa Latin dari kata-kata “dia” dan “logos” yang ketika digabungkan berarti “pertukaran makna” (setidaknya begitulah menurut Wikipedia). Dari sini saja sudah jelas kan bahwa branding itu lawannya dialog. Branding asal katanya dari bahasa Norse yang artinya “membakar.” Itu cara koboi dulu menandai ternak mereka. Mereka cap sapi mereka dengan besi panas. Saya rasa tidak ada pertukaran makna di sana. Sapi melenguh minta berdialog? Nyosss! Besi panas respond brandingnya.

Lantas bagaimana bila suatu brand ingin berubah, ingin menjadi lebih manusiawi, dan–lebih penting lagi–ingin tetap jaya di jaman internet sekarang?  Tulisan di bawah ini bisa jadi awal yang baik:

For Your Company To Last, The “Brand” Must Die. But Stories Should Survive

Aided by the web, a new generation of consumers began to dig a little deeper. Consumers discovered that Michael Jordan was telling them to wear his shoes, while kids in sweatshops were making them. We began to respond to the disconnect between products and brands. People began to see straight through the surface of brands to the profit-driven actions that produced the products underneath. And some of the worst offenders began to change what their process with real, measurable, and positive change — not perfect, but real change.

People began to see the profit-driven motives underneath.

A new force has emerged. “Brandless” companies like Muji are celebrated. Jeff Bezos, CEO of Amazon.com, talks about a return to the primacy of the product and the need for brands and the products that they represent to be more closely connected. Even the most successful advertising agencies, like Crispin Porter + Bogusky, are shifting toward a new view. The book Baked In argues that value should be baked into the product itself.

artikel lengkapnya di FastCoDesign

Atau, bisa juga coba jawaban nyeleneh saya:

Dialogue kalau dipecah-pecah jadi “dia”, “lo”, dan “gue”.  Jadi, kalau brand mau sukses, brand harus memfasilitasi pembicaraan antara “dia” dan “lo”, dan berikan kesempatan agar mereka bisa bicara tentang brand anda, tentang si “gue.”

 

Jangan Membangun Dialog Melalui Social Media

Orang Indonesia aktif di social media? Bukan berita lagi lah itu.  Bahkan ketika Rovio meluncurkan Facebook app-nya Angry Birds, mereka melakukannya di Jakarta.  Yang aneh adalah brand menganggap ini berarti mereka harus lebih banyak berinteraksi dengan customers lewat social media.  Ini ngaco.

Orang memakai social media untuk berinteraksi dengan sesama.  Ketika brand mulai “berdialog” dengan customers biasanya malah mengganggu pembicaraan orang.  Ini hasil pola pikir interruptive marketing yang sudah jadi bawaannya banyak marketers.  Kita lebih terlatih untuk beriklan soalnya, bukan untuk memfasilitasi dialog.

Kalau brand anda serius ingin menjajal socmed, harusnya anda mendorong agar semua karyawan anda rajin memakai social media.  Gak perlu menciptakan jabatan aneh-aneh seperti “Social Media Marketing Manager.” Itu cuma akan menciptakan lebih banyak masalah.

Contohnya:

“Gue tadi baca di timeline gue ada yang punya masalah dengan produk kita.  Gue pengen kasih solusinya tapi harus di-meeting-in dulu dengan SocMed Manager kita.”
Buset, kenapa gak langsung aja di jawab?

Itulah kecenderungan organisasi kebanyakan. Seolah-olah logikanya: “Kuda kakinya empat, larinya cepat. Kalau kakinya lima pasti lebih cepat lagi larinya.”

Inilah sebabnya mengapa begitu anda mendengar ada yang mengusulkan untuk membangun conversation dengan customer lewat social media, anda harus memastikan ide itu tidak sampai di organisasi anda. Karena, bila sampai di organisasi, all hell breaks lose.

Mengganti Lampu Tower

Tahun pertama kuliah saya masuk engineering. Tahun kedua pindah ke bisnis & psikologi. Melihat video di bawah ini, saya jadi bersyukur sekali dengan pilihan hidup saya. Se-extreme apapun, jadi seorang marketer gak mungkin sama bahayanya dengan menjadi seorang engineer.

Tiap kali dia melihat ke bawah, saya merinding.

Inilah jenis pekerjaan yang seperti apapun kita coba menjelaskannya pada orang lain, orang lain tidak akan mengerti.

Romantisme Anak Muda

Ingat dulu saat anda jatuh cinta pertama kali?  Mungkin terasa seperti cinta itu akan selalu membara sampai akhir masa (aww, so sweet).  Cara mendeklarasikan cinta ini berbeda-beda.  Yang saya rasa menarik adalah fenomena lovelock.  Susah menjelaskannya tanpa jadi panjang lebar.  Itu tugasnya Wikipedia sajalah.  Kalau diterjemahkan, jadi Gembok Cinta… hm, jadi seperti judul lagu dangdut.

CC Wikipedia Commons

Menurut saya yang bikin lovelocks unik itu karena ada di segala penjuru dunia. Mau di Kanada, Amerika, Serbia, Korea, Jepang dan banyak lagi: ada. Kok bisa ya? Tempat yang biasa-biasa saja (biasanya pagar pinggir jembatan) dan benda yang biasa-biasa saja (gembok!) bisa diberi makna yang sangat dalam. Dan, entah bagaimana, anak-anak muda setuju pagar itulah yang akan dipakai sebagai pernyataan cinta, bukan pagar yang lain. Mungkin tanda tanya inilah yang menjadikannya romantis. Romantisme semangat petualang yang berani mengarungi hidup yang penuh tanda tanya bersama-sama.

Asyik.

Eh, tapi kemudian masuklah profit motive dan kapitalisme. Beberapa minggu yang lalu saya ke PVJ di Bandung dan menemukan tanda ini lantai atas:

Yah, romantismenya langsung hilang lah. Mana jiwa petualangnya kalau cara menunjukkan cinta saja harus diejawantahkan melalui poster seperti ini. Dan di pagar itupun hanya ada satu gembok yang sudah berkarat. Kemungkinan besar itu gemboknya yang memasang poster 🙂

Indahnya cinta pertama itu kan karena kita belum tahu aturan mainnya. Malah ada yang bilang harusnya langsung nikah, gak usah pake pacaran. Nah, semakin dilarang malah semakin seru. Lantas kenapa poster seperti ini ada?

Saya yakin yang memasangnya pun dulu pernah jatuh cinta. Tapi yah itulah sifat organisasi kebanyakan. Begitu kita masuk ke dalamnya, kita harus berhenti menjadi manusia dan berubah menjadi alat pelaksana. Makhluk ciptaan Tuhan diminta menjadi makhluk jelmaan hasil imajinasi HRD.

Marketing itu ilmu dan seni. Marketing itu urusan otak dan hati. Marketing itu ranah manusia; untuk, dari, dan oleh manusia.

Anda sedang membangun tim dan perusahaan yang penuh dengan robot atau manusia?

Kenapa Nokia Bankrut?

Kasihan Nokia. Coba dia jualan mobil, bukannya jualan HP, mungkin strategi meluncurkan edisi terbatas memang bisa menaikkan pamornya.

Benar-benar “limited”. Pabriknya saja sampai ditutup

Dalam setahun kedepan Nokia berencana merumahkan 10,000 orang dan menutup pabrik-pabriknya, termasuk pabrik utamanya di Finlandia. Padahal tahun lalu dia masih jadi rajanya HP. Tapi yah, ini juga sebenarnya bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Ini suatu proses yang sudah mulai terasa 5-6 tahun yang lalu. Brand-nya mulai menjadi tidak relevan untuk anak muda pada saat itu. Kalau ditelaah apa penyebab kegagalannya, saya rasa karena dia terlalu fokus menjadi HP sejuta umat. Setiap ada model baru, ada banyak sekali varian warnanya. Trying to please everybody, ended up being loved by no one. Tragis.

Lebih tragis lagi karena dua hal:

1. Denial yang membudaya di organisasinya. Sebagian besar orang yang saya kenal yang bekerja di Nokia cerdas, pintar, dan apa adanya. Lihat saja akun-akun Twitternya. Tapi saat ada di dalam ranah organisasi, entah bagaimana interaksi langsung menjadi tumpul. (Saya bilang “entah bagaimana” sekedar agar sopan. Sebenarnya masalahnya jelas) Jadi teringat dengan Kodak.

2. Sebenarnya masih ada penggemar Nokia yang setia. Dan mereka gak melulu orang tua yang terlalu pelit/hemat untuk membeli HP baru. Ada anak-anak kuliahan dan SMA yang berusaha bertahan dengan Nokia smartphonenya walaupun teman-temannya semua memakai BB dan Android. Tapi anak-anak ini sudah jadi makhluk langka yang sudah hampir punah.

Semua ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ini semua terjadi perlahan, seperti orang langsing yang berubah menjadi gemuk. (Nah, ini bicara dari pengalaman pribadi nih). Kita gak tiba-tiba bangun dan semua pakaian jadi gak muat. Kita jadi gemuk karena terus-menerus memasukkan lebih banyak kalori daripada yang kita keluarkan. Saya gemuk karena salah saya sendiri. Nokia bankrut? Nah, salah siapakah itu?